Beranda/ Bab/ Satu Pernikahan Seribu Kebohongan/ Bab 4 : Malam yang Mengubah Segalanya
SEDANG MEMBACA

Bab 4 : Malam yang Mengubah Segalanya

0%

 Sembilan hari sebelum pernikahan.


Malam itu, Raffi tidak tahu bahwa hidupnya akan berubah hanya dalam beberapa jam.


Baginya, hari itu sama seperti hari-hari sebelumnya.


Bangun pagi.


Pergi bekerja.


Menyelesaikan rapat.


Mengecek beberapa dokumen yang belum selesai.


Kemudian pulang dengan pikiran yang dipenuhi satu hal.


Pernikahan.


Sesekali ia masih tidak percaya bahwa sembilan hari lagi dirinya akan benar-benar menjadi suami Nabila Putri Pradipta.


Perempuan yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun.


Perempuan yang selalu berada di sampingnya ketika kariernya belum sebaik sekarang.


Perempuan yang pernah melihatnya pulang dengan wajah lelah hanya karena mengejar target pekerjaan.


Dan perempuan yang tetap mengatakan,


"Aku bangga sama kamu."


Bahkan ketika Raffi sendiri tidak bangga terhadap dirinya.


Pukul enam sore, Raffi keluar dari kantor.


Ponselnya bergetar.


Bella.


Raffi tersenyum sebelum mengangkatnya.


"Hallo."


"Udah pulang?"


"Baru keluar."


"Besok kamu sibuk?"


"Kenapa?"


"Temenin aku dong."


"Ke mana?"


"Salon."


Raffi tertawa.


"Lagi?"


"Namanya juga mau nikah."


"Iya, iya."


Bella terdiam sebentar.


Kemudian bertanya,


"Raffi..."


"Hm?"


"Kamu bahagia?"


Pertanyaan itu terdengar sederhana.


Namun Raffi justru tersenyum lebih lebar.


"Bahagia."


"Yakin?"


"Yakin."


"Takut?"


"Sedikit."


"Kenapa?"


Raffi masuk ke mobil.


"Takut ternyata setelah nikah kamu berubah."


Bella tertawa di ujung telepon.


"Kalau aku berubah gimana?"


"Aku balikin ke orang tuamu."


"Jahat."


"Kamu yang nanya."


Mereka tertawa bersama.


Percakapan itu berlangsung cukup lama.


Sampai akhirnya Bella berkata,


"Raffi..."


"Iya?"


"Aku sayang kamu."


Raffi tersenyum.


"Aku juga."


Telepon berakhir.


Raffi meletakkan ponselnya di dashboard.


Ia tidak tahu...


itu adalah salah satu percakapan terakhirnya dengan Bella sebagai seorang kekasih.




Di tempat lain, Alya baru saja keluar dari salon.


Malam mulai turun.


Ia berjalan menuju mobilnya sambil memainkan ponsel.


Pesan yang sama masih ada.



Besok malam. Hotel yang sama.




Alya berhenti berjalan.


Ia menatap pesan tersebut sekali lagi.


Kemudian membuka galeri.


Ada sebuah foto lama.


Foto dirinya bersama seorang pria.


Foto yang sama yang ia lihat kemarin.


Alya menutup galeri.


Tidak.


Ia tidak ingin kembali ke masa lalu.


Ia sudah meninggalkan semuanya.


Setidaknya, itulah yang selama ini ia yakini.


Alya masuk ke mobil.


Baru beberapa detik menyalakan mesin, sebuah pesan baru masuk.



Kalau kamu nggak datang, aku yang datang ke rumahmu.




Alya membeku.


Tangannya masih berada di atas kemudi.


Beberapa detik kemudian, ia mengetik:



Jangan ganggu keluargaku.




Balasan datang hampir seketika.



Kalau begitu datang sendiri.




Alya memejamkan mata.


Ia tahu...


tidak ada pilihan mudah malam itu.




Sementara itu, Raffi sedang dalam perjalanan menuju rumah Bella.


Ia ingin memberikan sebuah hadiah kecil.


Bukan sesuatu yang mahal.


Hanya sebuah jam tangan.


Ia membelinya beberapa minggu lalu.


Raffi awalnya ingin memberikannya saat hari pernikahan.


Namun malam itu ia berubah pikiran.


Ia ingin memberikan sekarang.


Ketika sampai di depan rumah keluarga Pradipta, Raffi melihat suasana yang jauh lebih sepi.


Beberapa lampu masih menyala.


Raffi mengirim pesan.



Aku di depan.




Tidak sampai satu menit, Bella keluar.


Namun wajahnya terlihat berbeda.


"Kenapa?" tanya Raffi.


Bella menggeleng.


"Nggak apa-apa."


"Kamu kelihatan capek."


"Sedikit."


Raffi mengeluarkan kotak kecil dari sakunya.


"Ini."


Bella mengerutkan kening.


"Apa?"


"Buka."


Bella membuka kotak tersebut.


Matanya membesar.


"Jam?"


Raffi mengangguk.


"Aku beli beberapa minggu lalu."


"Kenapa baru dikasih?"


"Nggak tahu."


Bella tersenyum.


"Bagus banget."


"Kalau nggak suka, jangan dipakai."


Bella langsung memeluknya.


"Aku suka."


Raffi tertawa.


"Bel."


"Hm?"


"Besok aku jemput."


"Jangan besok."


Raffi mengerutkan kening.


"Kenapa?"


"Aku ada urusan sama Mama."


"Oh."


Bella tersenyum.


"Lusa aja."


Raffi mengangguk.


"Oke."


Bella menatapnya beberapa saat.


"Raffi..."


"Hm?"


"Kalau suatu hari ada orang yang ngomong sesuatu tentang aku..."


Raffi terdiam.


"Kenapa?"


"Pokoknya..."


Bella menarik napas.


"Jangan langsung percaya."


Raffi tersenyum.


"Aku tahu kamu."


Bella menggeleng.


"Bukan itu."


"Lalu?"


Bella seperti ingin mengatakan sesuatu.


Tetapi akhirnya mengurungkan niatnya.


"Nggak jadi."


Raffi mengusap kepalanya.


"Kamu aneh."


Bella tertawa kecil.


"Iya."


Mereka kembali berpelukan.


Tidak ada yang aneh.


Tidak ada pertengkaran.


Tidak ada tanda bahwa hubungan mereka akan segera hancur.


Namun ketika Raffi masuk ke mobil...


Bella berdiri cukup lama di depan rumah.


Menatap mobil itu pergi.


Matanya terlihat sedih.




Pukul 22.17.


Sebuah mobil hitam berhenti di depan sebuah hotel.


Alya turun.


Ia memakai pakaian sederhana.


Tidak ada aksesori mencolok.


Tidak ada sesuatu yang membuat orang langsung mengenalinya.


Ia berjalan masuk melalui pintu samping.


Bukan pintu utama.


Di lobi, seorang pria sudah menunggu.


Pria itu berdiri ketika melihat Alya.


"Kamu datang juga."


Alya berhenti.


"Mana orangnya?"


Pria itu tersenyum tipis.


"Tenang."


"Aku nggak punya banyak waktu."


"Kenapa terburu-buru?"


Alya menatap tajam.


"Kamu yang minta aku datang."


Pria itu mengeluarkan sebuah amplop.


"Aku cuma mau memberikan ini."


Alya tidak langsung mengambilnya.


"Apa?"


"Buka nanti."


Alya akhirnya mengambil amplop itu.


"Setelah ini selesai?"


"Belum."


Alya menatapnya.


"Apa lagi?"


Pria itu mendekat.


"Kamu pikir masalah ini bisa selesai cuma dengan satu amplop?"


Alya terdiam.


Kemudian berkata,


"Jangan seret keluargaku."


Pria itu tertawa kecil.


"Keluargamu?"


Ia menatap Alya.


"Justru keluargamu yang selama ini membuat semuanya jadi rumit."


Alya menggenggam amplop itu.


"Aku pergi."


Ia berbalik.


Namun pria tersebut berkata,


"Besok."


Alya berhenti.


"Apa?"


"Besok semuanya dimulai."


Alya menoleh.


Pria itu hanya tersenyum.




Pukul 23.03.


Raffi sudah berada di rumahnya.


Ia baru saja selesai mandi ketika ponselnya berbunyi.


Sebuah nomor tidak dikenal.


Raffi mengangkatnya.


"Halo?"


Tidak ada jawaban.


"Halo?"


Hening.


Kemudian sambungan terputus.


Raffi melihat layar.


Nomor asing.


Ia mengernyit.


Mungkin salah sambung.


Raffi tidak terlalu memikirkannya.


Ia meletakkan ponsel dan berjalan menuju kamar.


Namun beberapa detik kemudian...


ponselnya kembali bergetar.


Sebuah pesan.



Jangan percaya semua orang yang ada di sekitarmu.




Raffi membaca pesan itu.


Keningnya berkerut.


Ia mengetik:



Siapa ini?




Tidak ada balasan.


Raffi menunggu.


Satu menit.


Dua menit.


Lima menit.


Tetap tidak ada.


Akhirnya ia meletakkan ponselnya.


"Orang aneh."


Ia mematikan lampu.


Tidak tahu bahwa pesan singkat itu...


adalah peringatan pertama yang tidak pernah ia pahami.




Keesokan paginya.


Raffi bangun seperti biasa.


Ia tidak tahu bahwa malam sebelumnya...


ada seseorang yang sudah mulai menyusun langkah terakhir.


Sebuah kendaraan berhenti di sebuah hotel.


Seseorang turun.


Seseorang lain membuka sebuah pintu.


Dan sebuah kamera...


sudah berada di tempat yang tepat.


Menunggu.


Menunggu seseorang melakukan sesuatu yang nantinya bisa terlihat seperti kesalahan terbesar dalam hidupnya.


Padahal...


tidak semua yang terekam kamera adalah kebenaran.




Pukul 19.42.


Raffi mendapat telepon.


Nomor kantor.


"Halo?"


"Pak Raffi?"


"Iya."


"Maaf mengganggu. Ada dokumen yang harus Bapak tanda tangani malam ini."


"Malam ini?"


"Iya, Pak. Besok pagi sudah harus masuk."


Raffi menghela napas.


"Di mana?"


"Hotel Arunika."


Raffi diam.


"Kenapa harus di hotel?"


"Karena salah satu pihak yang tanda tangan masih ada di sana, Pak."


Raffi melihat jam.


19.42.


Ia sebenarnya ingin menolak.


Tetapi dokumen itu penting.


"Baik. Saya ke sana."


Telepon berakhir.


Raffi mengambil kunci mobil.


Ia tidak tahu...


bahwa seseorang sudah menunggu kedatangannya.


Dan ia juga tidak tahu...


bahwa malam itu akan menjadi malam terakhir ketika namanya masih dianggap bersih oleh sebagian besar orang.




Hotel Arunika berdiri di tengah kota dengan bangunan yang menjulang dan lampu-lampu terang di setiap sisi.


Raffi memarkir mobil.


Ia masuk melalui pintu utama.


Seorang pria dari pihak kantor menghubunginya dan mengatakan sedang berada di lantai tujuh.


Raffi masuk ke lift.


Pintu tertutup.


Angka di panel berubah.


3...


4...


5...


Raffi memeriksa ponselnya.


Tidak ada pesan dari Bella.


Ia tersenyum kecil.


Mungkin Bella sudah tidur.


6...


7...


Ding.


Pintu lift terbuka.


Raffi keluar.


Koridor hotel terlihat sepi.


Ia berjalan mengikuti nomor kamar yang diberikan.


712.


Raffi mengetuk.


Tidak ada jawaban.


Ia mengetuk lagi.


"Permisi."


Tetap tidak ada.


Raffi melihat ponselnya.


Nomor orang kantor tersebut tidak aktif.


"Ke mana orangnya?"


Raffi mencoba membuka gagang pintu.


Tidak terkunci.


Pintu perlahan terbuka.


Raffi berdiri di ambang pintu.


"Permisi?"


Tidak ada jawaban.


Ia masuk satu langkah.


Kemudian dua langkah.


Di dalam kamar...


tidak ada siapa-siapa.


Raffi mengerutkan kening.


Ia hendak keluar.


Namun tiba-tiba...


pintu di belakangnya tertutup.


Klik.


Raffi menoleh.


Dan pada saat yang sama...


sebuah suara terdengar dari arah kamar tidur.


"Raffi?"


Raffi membeku.


Ia mengenal suara itu.


Suara yang seharusnya tidak pernah ada di sana.


"Alya...?"


Dari balik pintu kamar tidur, Alya muncul.


Wajahnya pucat.


Matanya menatap Raffi.


Keduanya sama-sama terdiam.


Tidak ada yang berbicara.


Tidak ada yang mengerti mengapa mereka berada di tempat yang sama.


Namun beberapa meter dari sana...


sebuah kamera sudah merekam semuanya.


Dan malam itu...


seseorang akhirnya mendapatkan apa yang mereka inginkan.


Sebuah rekaman.


Sebuah kesalahpahaman.


Dan sebuah cerita palsu yang sebentar lagi akan dipercaya semua orang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar