Beranda/ Bab/ Satu Pernikahan Seribu Kebohongan/ BAB 2 : Pernikahan yang Tinggal Menghitung Hari
SEDANG MEMBACA

BAB 2 : Pernikahan yang Tinggal Menghitung Hari

0%

 Pagi datang lebih cepat dari biasanya.


Raffi sudah berdiri di depan cermin sejak pukul enam pagi.


Kemeja putih sudah dikenakan. Rambut dirapikan. Jam tangan terpasang di pergelangan tangan.


Ia bahkan sempat memeriksa penampilannya dua kali sebelum akhirnya mengambil kunci mobil.


Hari ini ia harus menjemput Bella.


Seperti biasa.


Namun ada satu hal yang membuat pagi itu terasa berbeda.


Pernikahan mereka tinggal sepuluh hari lagi.


Sepuluh hari.


Raffi tersenyum kecil ketika mengingatnya.


Selama beberapa bulan terakhir, hampir setiap pembicaraan mereka selalu berakhir pada hal yang sama.


Gedung.


Undangan.


Dekorasi.


Catering.


Foto prewedding.


Pakaian.


Dan tentu saja...


kehidupan setelah menikah.


Raffi sebenarnya sudah mulai memikirkan rumah.


Bukan rumah mewah.


Ia hanya ingin tempat sederhana yang bisa mereka sebut sebagai rumah.


Tempat mereka pulang setelah bekerja.


Tempat mereka bertengkar karena hal-hal kecil.


Tempat mereka tertawa.


Tempat yang suatu hari mungkin dipenuhi suara anak-anak mereka.


Pikiran itu membuat Raffi tersenyum sendiri.


Ponselnya bergetar.


Bella: Aku udah siap.


Raffi membalas singkat.


Raffi: Lima menit lagi.


Tidak sampai lima menit, ia sudah tiba di depan rumah keluarga Pradipta.


Pagar besar itu terbuka.


Seorang petugas keamanan yang sudah mengenalnya hanya mengangguk ketika mobil Raffi masuk.


Rumah tersebut sudah mulai ramai.


Beberapa pekerja terlihat membawa perlengkapan dekorasi.


Ada kardus-kardus besar di teras.


Beberapa orang sibuk mengatur bunga dan berbagai perlengkapan acara.


Pernikahan Bella dan Raffi bukan acara kecil.


Keluarga Pradipta memiliki cukup banyak relasi.


Teman bisnis.


Rekan kerja.


Pejabat.


Pengusaha.


Tokoh masyarakat.


Bahkan beberapa orang yang cukup dikenal di daerah mereka.


Raffi turun dari mobil.


Baru beberapa langkah menuju pintu, Bella sudah muncul.


Ia mengenakan pakaian sederhana, celana panjang dan blouse berwarna lembut.


Tidak seperti kebanyakan perempuan yang mungkin akan berdandan berlebihan ketika mempersiapkan pernikahan, Bella justru terlihat santai.


"Maaf lama."


Raffi melihat jam tangannya.


"Kamu baru dua menit."


"Berarti aku nggak lama."


Raffi tertawa.


Mereka berjalan menuju mobil.


Namun baru beberapa langkah, suara seorang perempuan terdengar dari belakang.


"Bella."


Bella berhenti.


Raffi ikut menoleh.


Alya berdiri di dekat pintu rumah.


Penampilannya berbeda jauh dengan Bella.


Gaun pendek berwarna gelap, rambut tertata rapi, dan aroma parfum yang bahkan masih terasa dari jarak beberapa meter.


Di tangannya terdapat sebuah tas kecil.


"Aku mau pinjam mobil kamu nanti."


Bella mengernyit.


"Mobil yang mana?"


"Yang putih."


"Kenapa?"


"Mau ke salon."


Bella mengangguk.


"Ya sudah."


Alya kemudian menatap Raffi.


"Berangkat?"


Raffi mengangguk.


"Iya."


Alya hanya tersenyum tipis.


"Jaga adikku."


Kalimat sederhana.


Namun entah kenapa, cara Alya mengucapkannya membuat Raffi merasa sedikit aneh.


"Pastilah."


Alya tidak menjawab lagi.


Ia berjalan melewati mereka dan masuk ke dalam rumah.


Bella menatap punggung kakaknya beberapa detik.


"Kak Alya memang begitu."


"Begitu gimana?"


"Kadang ngomongnya aneh."


Raffi tertawa kecil.


"Mungkin aku yang terlalu sensitif."


Bella tidak menjawab.


Mereka masuk ke mobil.




Tujuan pertama mereka adalah tempat fitting pakaian.


Hari itu mereka harus memastikan pakaian yang akan digunakan pada hari pernikahan sudah benar-benar sesuai.


Bella duduk di depan cermin sementara seorang penjahit melakukan beberapa penyesuaian.


Raffi berdiri tidak jauh darinya.


"Bagaimana?"


Bella melihat pantulan dirinya.


"Bagus nggak?"


Raffi mengangguk.


"Bagus."


"Bagus doang?"


"Cantik."


Bella tersenyum.


"Nah, gitu."


Raffi menggeleng.


"Kamu kalau dipuji memang harus lengkap ya?"


"Iya."


Mereka tertawa.


Setelah proses fitting selesai, keduanya duduk di sebuah ruang tunggu.


Bella membuka ponselnya.


Komentar di salah satu unggahan mereka sudah mencapai ribuan.


Salah satu video mereka beberapa hari lalu kembali ramai.


Dalam video itu, Raffi dan Bella sedang bercanda tentang siapa yang paling keras kepala dalam hubungan mereka.


Komentar-komentar baru terus berdatangan.


"Kapan nikah?"


"Pasangan favorit banget."


"Semoga langgeng sampai tua."


"Bella beruntung banget dapat Raffi."


Bella menunjukkan layar ponselnya.


"Lihat."


Raffi membaca beberapa komentar.


"Kenapa?"


"Mereka semua nungguin pernikahan kita."


"Terus?"


Bella tersenyum.


"Jangan sampai bikin mereka kecewa."


Raffi menatapnya.


"Aku nggak akan."


Bella terdiam sebentar.


Kemudian ia menyandarkan kepalanya ke bahu Raffi.


"Aku percaya sama kamu."


Raffi tersenyum.


"Kenapa tiba-tiba serius?"


"Enggak tahu."


Bella memainkan jari Raffi.


"Mungkin karena sebentar lagi semuanya berubah."


"Berubah bagaimana?"


"Kita nggak cuma pacaran lagi."


Raffi menatap wajahnya.


"Kita jadi keluarga."


Kalimat itu sederhana.


Tetapi entah kenapa terasa begitu dalam.


Raffi mengangguk.


"Iya."




Sementara itu, beberapa kilometer dari tempat mereka berada, Alya sedang duduk di dalam sebuah salon.


Salon miliknya cukup besar.


Interiornya didominasi warna putih dan emas. Beberapa pelanggan terlihat sedang mendapatkan perawatan.


Alya duduk di sebuah ruangan pribadi sambil memeriksa ponselnya.


Seorang perempuan yang duduk di depannya berbicara pelan.


"Kak, jadi benar mau menikah?"


Alya tertawa kecil.


"Siapa?"


"Ya Kak Alya."


Alya menatapnya.


"Siapa yang bilang?"


"Katanya Kak Alya mau nikah."


Alya hanya tersenyum.


"Belum."


Ia kembali melihat layar ponselnya.


Ada beberapa pesan yang belum dibalas.


Salah satunya berasal dari sebuah nomor yang tidak tersimpan.


Alya membacanya.


"Kita perlu bicara."


Ia langsung menghapus pesan tersebut.


Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali bergetar.


Alya melihat layar.


Nomor yang sama.


Kali ini pesannya berbeda.


"Jangan pura-pura lupa."


Ekspresi wajah Alya berubah.


Ia mengunci ponselnya.


"Kenapa, Kak?"


Alya menggeleng.


"Nggak apa-apa."


Namun sejak saat itu, senyumnya tidak lagi terlihat.




Sore hari, Raffi dan Bella kembali ke rumah keluarga Pradipta.


Rina sudah menunggu mereka di ruang keluarga.


"Sudah selesai?"


Bella mengangguk.


"Sudah, Bu."


Rina tersenyum.


"Bagus."


Kemudian ia menatap Raffi.


"Raffi, nanti malam jangan pulang dulu."


Raffi sedikit terkejut.


"Kenapa, Bu?"


"Papa mau bicara."


Bella langsung tertawa kecil.


"Nah kan."


Raffi menatap Bella dengan wajah pasrah.


"Kamu ikut."


"Kenapa aku?"


"Karena kamu anaknya."


"Terus?"


"Kalau Papa kamu marah, kamu yang maju."


Rina ikut tertawa.


"Sudah, jangan bercanda terus."


Beberapa menit kemudian Hendra turun dari lantai atas.


Ia mengenakan kemeja sederhana.


Namun kehadirannya langsung membuat suasana ruang keluarga sedikit berbeda.


Hendra duduk di hadapan Raffi.


"Kamu sudah siap?"


Raffi mengangguk.


"Siap, Pak."


"Setelah menikah, kamu dan Bella tinggal di mana?"


"Kami sudah mencari beberapa tempat."


Hendra mengangguk pelan.


"Kamu tetap bekerja?"


"Tentu."


"Dan Bella?"


"Dia juga tetap bekerja."


Hendra terdiam.


Ia menatap Raffi cukup lama.


"Kamu tahu keluarga kami?"


Raffi mengangguk.


"Tahu, Pak."


"Kamu tahu kehidupan Bella seperti apa?"


"Tahu."


"Dan kamu yakin bisa menjaganya?"


Raffi menarik napas.


"Saya nggak bisa janji hidup kami akan selalu mudah, Pak."


Hendra mengangkat alis.


"Tapi?"


"Saya bisa janji saya akan berusaha membuat Bella tetap merasa aman bersama saya."


Ruangan itu hening.


Bella menatap Raffi.


Rina tersenyum kecil.


Hendra akhirnya mengangguk.


"Jawaban yang bagus."


Raffi sedikit lega.


Namun Hendra melanjutkan.


"Satu hal."


"Iya, Pak?"


"Kalau ada masalah dalam rumah tangga kalian nanti, jangan biarkan orang lain ikut campur."


Raffi mengangguk.


"Saya mengerti."


"Bagaimanapun, kalian akan membangun keluarga sendiri."


Raffi kembali mengangguk.


Saat itu ia tidak menyadari betapa ironisnya nasihat tersebut.


Karena beberapa hari kemudian...


bukan hanya satu orang yang akan ikut campur dalam rumah tangganya.


Melainkan hampir semua orang.




Malam semakin larut.


Setelah makan malam, Raffi dan Bella duduk di teras belakang.


Lampu taman menyala redup.


Angin malam bergerak perlahan melewati pepohonan.


Bella memainkan cincin kecil yang diberikan Raffi beberapa bulan lalu.


"Kamu bahagia?"


tanyanya tiba-tiba.


Raffi menoleh.


"Bahagia."


"Yakin?"


"Yakin."


Bella tersenyum.


"Aku juga."


Raffi menggenggam tangannya.


"Sepuluh hari lagi."


Bella mengangguk.


"Sepuluh hari."


Mereka tidak tahu bahwa pada saat yang sama...


di tempat lain, sebuah rekaman sedang berpindah tangan.


Sebuah rekaman yang belum diketahui Raffi.


Sebuah rekaman yang akan mengubah seluruh hidupnya.


Dan yang paling mengerikan...


rekaman itu bukan tentang hari ini.


Melainkan tentang sesuatu yang belum terjadi.


Sebelas hari sebelum pernikahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar