"Serius, kamu yakin mau menikah denganku?"
Raffi Devanendra menatap perempuan di hadapannya sambil tersenyum.
Nabila Putri Pradipta—atau yang lebih sering dipanggil Bella—hanya terkekeh kecil. Tangannya masih sibuk memainkan sedotan minuman yang sejak tadi hampir tidak disentuh.
"Pertanyaan apaan itu?"
"Pertanyaan penting."
"Kenapa?"
"Karena kamu masih punya kesempatan buat kabur."
Bella langsung tertawa.
Mereka sedang duduk di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai. Tempat itu bukan restoran mewah, bukan pula kafe yang sedang viral di media sosial. Hanya sebuah tempat sederhana yang sudah beberapa kali mereka datangi sejak awal berpacaran.
Di luar jendela, kendaraan berlalu-lalang.
Sore perlahan berubah menjadi malam.
Namun bagi Raffi, suasana di meja kecil itu terasa seperti dunia mereka sendiri.
Bella menopang dagunya dengan satu tangan.
"Kalau aku kabur sekarang, kamu mau ngapain?"
"Nyari."
"Kalau aku sembunyi?"
"Dicari."
"Kalau aku pergi jauh?"
"Aku ikut."
Bella tersenyum.
"Kalau aku benar-benar nggak mau menikah?"
Raffi terdiam beberapa detik.
Kemudian ia menjawab dengan suara lebih lembut.
"Ya aku bakal tetap menghargai keputusan kamu."
Bella mengangkat alis.
"Serius?"
"Serius."
"Padahal tadi bilang bakal ikut."
"Ya ikut kalau kamu pergi liburan. Kalau kamu pergi karena nggak mau menikah sama aku, beda cerita."
Bella tertawa lagi.
Inilah salah satu hal yang membuatnya menyukai Raffi.
Laki-laki itu tidak pernah berusaha menjadi seseorang yang bukan dirinya.
Raffi memang bukan anak orang kaya.
Ia bukan berasal dari keluarga yang punya nama besar seperti keluarga Pradipta.
Namun ia memiliki sesuatu yang menurut Bella jauh lebih penting.
Ketekunan.
Raffi membangun kariernya dari bawah. Setelah bertahun-tahun bekerja keras, ia akhirnya mendapatkan posisi yang cukup baik di salah satu perusahaan BUMN.
Bukan karena nama keluarga.
Bukan karena koneksi.
Ia mendapatkannya karena kemampuannya sendiri.
Bella selalu bangga akan hal itu.
Bahkan terkadang ia sengaja menceritakan pencapaian Raffi kepada pengikutnya di media sosial.
"Ini loh calon suamiku," katanya suatu kali ketika sedang membuat konten.
"Orangnya biasa aja."
Raffi yang berada di sampingnya langsung protes.
"Hei."
Bella tertawa.
"Tapi pekerja keras."
Kamera kemudian diarahkan kepadanya.
Raffi hanya bisa menghela napas.
"Jangan percaya dia. Di rumah aslinya lebih cerewet."
Video itu akhirnya mendapat ribuan komentar.
Sebagian besar pengikut Bella menyukai hubungan mereka.
Ada yang menyebut mereka pasangan ideal.
Ada pula yang sering bertanya kapan mereka menikah.
Sekarang, pertanyaan itu akhirnya memiliki jawaban.
Sebelas hari lagi.
Sebelas hari menuju hari yang sudah mereka tunggu selama hampir tiga tahun.
Pernikahan.
Raffi mengambil ponselnya dari atas meja.
Ia membuka kalender.
"Besok kita fitting terakhir."
Bella mengangguk.
"Terus lusa ketemu WO."
"Terus?"
"Terus kamu jangan lupa datang ke rumah."
"Kenapa?"
"Papa mau ngobrol."
Raffi langsung menghela napas panjang.
"Kenapa kalau Papa kamu yang ngajak ngobrol rasanya kayak mau sidang skripsi?"
Bella menahan tawa.
"Papa cuma mau memastikan semuanya siap."
"Termasuk aku?"
"Terutama kamu."
Raffi menggeleng sambil tersenyum.
Hendra Pradipta memang bukan orang yang mudah membuat orang lain merasa santai.
Sebagai seorang pejabat sekaligus pengusaha besar, Hendra terbiasa mengambil keputusan dengan cepat. Namanya cukup dikenal di daerah mereka.
Keluarga Pradipta juga bukan keluarga biasa.
Rina, ibu Bella, merupakan seorang PNS yang juga menjalankan beberapa usaha. Ada butik, salon kecantikan, hingga bisnis kuliner.
Sementara Alya, kakak Bella, menjalankan salon kecantikan miliknya sendiri.
Berbeda dengan Bella yang lebih sederhana, Alya memiliki gaya hidup yang jauh lebih glamor.
Ia juga seorang selebgram.
Pengikutnya jauh lebih banyak daripada Bella.
Foto-foto perjalanan, restoran mahal, pakaian bermerek, acara malam, dan berbagai aktivitas bersama teman-temannya hampir selalu memenuhi media sosialnya.
Raffi sebenarnya tidak terlalu dekat dengan Alya.
Mereka hanya bertemu ketika ada acara keluarga atau saat Raffi datang ke rumah keluarga Pradipta.
Meski begitu, Raffi selalu berusaha menjaga hubungan baik.
Bagaimanapun, Alya adalah kakak perempuan Bella.
"Eh."
Suara Bella membuat Raffi kembali menatapnya.
"Kenapa?"
"Kamu melamun."
"Enggak."
"Iya."
"Sedikit."
"Ngapain?"
Raffi tersenyum.
"Lagi mikirin kamu."
Bella memutar bola matanya.
"Jangan gombal."
"Serius."
"Kalau serius, bayarin minumanku."
Raffi tertawa.
"Ini baru calon istri."
Bella ikut tertawa.
Mereka kemudian terdiam beberapa saat.
Bukan karena kehabisan bahan pembicaraan.
Justru karena keduanya sudah terlalu terbiasa dengan keheningan satu sama lain.
Tidak canggung.
Tidak perlu selalu ada percakapan.
Raffi memperhatikan Bella yang sedang melihat keluar jendela.
Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Raffi tersenyum.
Ia tidak pernah membayangkan akan sampai di titik ini.
Dulu mereka hanya dua orang yang tidak sengaja bertemu.
Sekarang mereka sedang menghitung hari menuju pernikahan.
Raffi meraih tangan Bella di atas meja.
Bella menoleh.
"Kenapa?"
"Enggak."
"Terus?"
Raffi menggenggam tangannya sedikit lebih erat.
"Terima kasih."
Bella terdiam.
"Untuk apa?"
"Udah mau sama aku."
Bella tersenyum kecil.
"Kamu kenapa sih hari ini?"
"Kenapa?"
"Kayak orang mau pergi jauh."
Raffi tertawa.
"Lebay."
Bella membalas genggaman tangannya.
"Aku juga beruntung punya kamu."
Mata mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, suara kendaraan di luar seolah menghilang.
Tidak ada keluarga.
Tidak ada pekerjaan.
Tidak ada media sosial.
Tidak ada masalah.
Hanya mereka.
Raffi dan Bella.
Dua orang yang percaya bahwa sebelas hari lagi, kehidupan mereka akan berubah menjadi sesuatu yang lebih indah.
Setidaknya...
begitulah yang mereka pikirkan.
Malam itu, Raffi mengantar Bella pulang.
Rumah keluarga Pradipta berdiri megah di kawasan yang cukup elit. Lampu-lampu halaman menyala terang ketika mobil Raffi berhenti di depan pagar.
Bella belum langsung turun.
Ia melihat Raffi beberapa saat.
"Besok jemput aku?"
"Jam berapa?"
"Jam tujuh."
"Pagi?"
Bella memukul lengannya pelan.
"Ya pagi lah."
"Oke."
Bella membuka pintu mobil.
Namun sebelum turun, ia berhenti.
"Raffi."
"Hm?"
"Jangan lupa."
"Apa?"
"Sebelas hari lagi."
Raffi tersenyum.
"Mana mungkin lupa."
Bella turun dari mobil.
Ia berjalan beberapa langkah menuju pintu rumah, lalu tiba-tiba berbalik.
Raffi masih menunggunya.
Bella mengangkat tangan.
Raffi membalas.
Senyum Bella masih terlihat ketika pintu rumah tertutup.
Raffi kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumah keluarga Pradipta.
Ia tidak tahu...
bahwa sebelas hari yang tersisa itu bukan lagi hitungan menuju kebahagiaan.
Melainkan hitungan mundur menuju kehancuran hidupnya.
Dan malam itu adalah salah satu malam terakhir ketika Raffi masih percaya bahwa semua yang ada di sekelilingnya benar-benar seperti yang terlihat.
Di lantai dua rumah keluarga Pradipta, seseorang berdiri di balik tirai.
Memperhatikan mobil Raffi yang semakin jauh.
Ponsel berada di tangannya.
Layar menyala.
Sebuah pesan baru saja masuk.
"Semuanya sudah siap."
Perempuan itu membaca pesan tersebut beberapa detik.
Kemudian layar ponselnya dimatikan.
Tidak ada jawaban.
Tidak ada penjelasan.
Hanya senyum tipis yang perlahan menghilang dari wajahnya.
Dan malam kembali sunyi.
Sebelas hari sebelum pernikahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar